Daily Archives: December 26, 2015

  • 0

Sepatu Applicable

Category : Uncategorized

Seorang bapak tua hendak menaiki bus, pada saat ia menginjakkan kakinya ketangga bus, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh kejalan. Sementara itu pintu bus lalu tertutup dan bus langsung bergerak, sehingga sibapak tua tdk bisa memungut sepatu yg terlepas tadi. Dengan tenang si bapak tua itu melepas sepatunya yg sebelah dan melemparkan nya keluar jendela. Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu dan bertanya kepada si bapak tua, ”Mengapa bapak melemparkan sepatu yg sebelah juga?”. Si bapak tua sambil tersenyum menjawab ringan, “Supaya siapapun yg menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya, itu sepatu baru dan bagus.
Jangan sampai sepatuku kehilangan pasangannya. Sepatu adalah pasangan terbaik, coba perhatikan saja:
• Bentuk pasangannya tak persis sama namun serasi.
• Saat dipakai berjalan gerakan bisa berbeda tapi tujuannya sama.
Kiri-kanan ! kiri-kanan !
• Tak pernah menuntut untuk berganti posisi, namun saling melengkapi. Yang satu loncat, yang lain mengikuti.
• Selalu sederajat tak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Satu naik tangga, pasangannya mengikuti
• Bila yang satu hilang yang lain tak memiliki arti. Si Anak muda masih penasaran. “Tapi bapak koq tidak kelihatan susah kehilangan sesuatu walaupun sepatu mempunyai nilai yang tinggi?”.
Si Bapak tersenyum santai. “Ah, Anak muda ketahuilah, “HARTA Cuma TITIPAN. NYAWA Cuma PINJAMAN. TUHAN bisa mengambilnya sewaktu-waktu.”

* Renungkanlah: Kehilangan tidak bisa pilih-pilih.
Bisa kehilangan SIAPA SAJA, APA SAJA dan KAPAN SAJA.
Musibah, rejeki dan Berbuat Salah itu pasti kita alami.
Syukurnya bagi orang beriman diberikan cara menghadapinya.
Dapat Musibah supaya bersabar…
Dapat rejeki supaya Bersyukur…
Berbuat Salah supaya segera bertobat…
Kiranya ilustrasi sederhana ini bermanfaat ……
Selamat Pagi…. Selamat beraktivitas, smg diberikan kesehatan dan keberkahan u/ qt semua…. Aamiin
Have a nice day


-- Download Sepatu Applicable as PDF --



  • 0

Rizki yang Sebenarnya

Category : Uncategorized

Sebelum pulang kantor, sang suami telp istrinya, “Sayang, alhamdulillah, bonus akhir tahun dari perusahaan sudah turun, Rp. 150 juta.” Dibalik telp, sang istri tentu saja mengungkapkan rasa syukurnya, “Alhamdulillah, semoga barokah ya mas”. Sejak beberapa bulan yg lalu mereka sudah merencanakan beli mobil sederhana untuk keluarga kecilnya. Dan uang yg turun mereka rasa cukup pas sesuai budget.
.
Namun dalam perjalanan pulang, dia ditelp oleh ibunya di kampung, “Nak, kamu ada tabungan? Tadi ada orang datang ke rumah. Ternyata almarhum ayahmu punya hutang ke dia cukup besar, Rp. 50 juta.” Tanpa pikir panjang, ia pun bilang ke ibunya, “Iya, Bu, insyaAllah ada.” Dalam perjalanan pulang ia pun sambil berpikir, “Nggak apa-apa lah, masih cukup untuk beli mobil yg 100 jutaan. Mungkin ini lebih baik.”
.
Ia pun melanjutkan perjalanan. Belum tiba di rumah, HP-nya kembali berdering. Seorang sahabat karibnya semasa SMA tiba-tiba menghubunginya sambil menangis. Sahabatnya itu sambil terbata mengabarkan bahwa anaknya harus segera operasi minggu ini. Banyak biaya yg tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatan dari pemerintah. Tagihan dari rumah sakit Rp. 80 juta.
.
Ia pun berpikir sejenak. Uang bonusnya tinggal 100 juta. Jika ini diberikan kepada sahabatnya, maka tahun ini ia gagal membeli mobil impiannya. Tapi nuraninya mengetuk, “Berikan padanya. Mungkin kamu memang jalan Allah untuk menolong sahabatmu itu. Mungkin ini memang rezekinya yang datang melalui perantara dirimu.” Ia pun menuruti panggilan nuraninya.
.
Setibanya di rumah, ia menemui istrinya dg wajah yg lesu. Sang istri bertanya, “Kenapa, mas? Ada masalah? Nggak seperti biasanya pulang kantor murung gini?” Sang suami mengambil napas panjang, “Tadi ibu di kampung telp, butuh 50 juta untuk bayar utang almarhum bapak. Nggak lama, sahabat abang juga telp, butuh 80 juta untuk operasi anaknya. Uang kita tinggal 20 juta. Maaf ya, tahun ini kita nggak jadi beli mobil dulu.”
.
Sang istri pun tersenyum, “Aduh, mas, kirain ada masalah apaan. Mas, uang kita yg sebenarnya bukan yg 20 juta itu, tapi yg 130 juta. Uang yg kita infakkan kepada orang tua kita, kepada sahabat kita, itulah harta kita yg sesungguhnya. Yg akan kita bawa menghadap Allah, yg tidak mungkin bisa hilang jika kita ikhlas. Sedangkan yg 20 juta di rekening itu, masih belum jelas, benaran harta kita atau akan menjadi milik orang lain.”
.
Sang istri pun memegang tangan suaminya, “Mas, insyaAllah ini yg terbaik. Bisa jadi jika kita beli mobil saat ini, jsutru menjadi keburukan bagi kita. Bisa jadi musibah besar justru datang ketika mobil itu hadir saat ini. Maka mari baik sangka kepada Allah, karena kita hanya tahu yg kita inginkan, sementara Allah-lah yg lebih tahu apa yg kita butuhkan.”
***
Kawan, ada tiga pilihan hidup yg harus kita pilih dg sangat hati-hati. Yakni: pendidikan, pekerjaan, dan pendamping hidup. Bukan sekadar yg favorit kampusnya, tapi yg sesuai dg bidang yg ingin kita pelajari. Bukan sekadar yg gajinya besar, tapi yg sesuai dg passion yg ada pada diri. Bukan sekadar yg indah parasnya, tapi yg bisa menjadi penasehat, sahabat, serta perantara untuk mendekat pada Sang Pencipta.


-- Download Rizki yang Sebenarnya as PDF --



  • 0

Rencana Tuhan, Rencana Paling Indah

Category : Uncategorized

Siapa sangka bahwa kita harus membayar Biaya Rumah Sakit dengan Biaya sendiri padahal mempunyai Kartu BPJS? Siapa kira kalau kartu BPJS tidak bisa digunakan untuk membayar biaya Rumah Sakit Anak saya? Disaat saya kebingungan darimana saya harus membayar Rumah Sakit, Disaat saya mencoba untuk mencari pinjaman ke kantor, Disaat yang membuat saya begitu lemah, begitu galau, bahkan saya sempat marah-marah, karena Rumah Sakit menolak keadaan anak saya yang dianggap belum darurat, sehingga tetap harus meminta rujukan dari Puskesmas, yang saya sendiri belum pernah tahu, dimana letak Puskesmas itu. Dan ketika, ok saya putuskan pakai uang pribadi Pihak Rumah Sakit tetap minta buat Surat Pernyataan bahwa tidak akan menggunakan BPJS, Rumah Sakit macam apa ini? Pake uang pribadipun masih tetap harus buat Surat Pernyataan, rupanya BPJS takut kalau ditengah pengobatan atau perawatan anak saya, saya menggunakan BPJS. Segitu takutnya BPJS untuk menanggung biaya Clientnya? Segitu Takutnya BPJS merugi? Ya Allah, buat apa ada BPJS. Itu yang membuat saya begitu marah di taksi dalam perjalanan pulang dari Bandung. Dari Bandung saya langsung menuju ke Rumah Sakit tempat anak saya dirawat. Akhirnya saya minta pindahkan BPJS ke rujukan yang terdekat dengan rumah, setidaknya saya tahu itu ada dimana.

Hari-hari di Rumah Sakit, kami lalui dengan begitu lama, setiap pemeriksaan Lab, perawat memberitahukan hasilnya selalu trombostitnya turun. Setiap penurunan saya perhatikan dari 86rb, 67rb, 24rb, 18rb,17rb,16rb, dan 15rb. Sampai titik ini, dokter kawatir terjadi pendarahan, saya lebih ngga ngerti lagi, untuk jaga-jaga katanya, saya diminta mendatangi pernyataan untuk order plasma darah, yang harganya lumayan, berikutnya order trombosit yang harganya lebih mahal lagi. Terus terang saya keberatan dengan hal ini, seberapa daruratnya, seberapa gentingnya kondisi anak saya? Seberapa banyak yang dibutuhkan saya ngga ngerti, dan saat itu dokter jaga memutuskan sebanyak 6 kantung, apa pertimbangannya? katanya standarnya demikian, karena kalo terjadi pendarahan pasti akan membutuhkan banyak darah (trombosit). Banyak pertanyaan dalam benak saya, kapan terjadi pendarahan? Kalau trombosit dibawah 10rb? Malam itu anak saya ditransfusi plasma darah 3 kantung. Sedang trombositnya belum digunakan. Dalam posisi trombosit 15rb, dokter memutuskan transfusi trombosit 2 kantung, dengan alasan untuk mencegah pendarahan??? Saya lebih bingung lagi. Setiap tindakan yang akan diambil Rumah sakit saya selalu diminta tanda tangan pernyataan. Disini Saya terus terang bingung, saya orang awam dalam hal kedokteran dimintai tanda tangan yang saya ngga ngerti ya saya tanda tangan. Dalam hati ini rumah sakit rupanya takut, setiap mau mengambil tindakan medis, rupanya ini rumah sakit mau lepas tangan (lepas) tanggung jawab ketika terjadi apa-apa? Rumah sakit macam apa ini? Prosedur Standar katanya. Selalu setiap mau ambil tindakan selalu memberitahukan ini lho biayanya? ini lho harganya? Sekali lagi rupanya pihak rumah sakit takut saya ngga mau bayar? Setiap saya bertanya lebih untuk memberikan masukan bagaimana meutuskan dengan baik, selalu akhirnya rumah sakit mengatakan, kalau bapak ngga setuju dengan tindakan rumah sakit, bapak bisa tanda tangan pernyataan tidak setuju?

bersambung…

 


-- Download Rencana Tuhan, Rencana Paling Indah as PDF --



Recent Comments

    Archives